Kolaborasi
dapat diartikan secara mudah sebagai kerja sama, kerja bersama-sama, kerja
bersama-sama dalam tim. Kolaborasi bukan kompetisi, walaupun sifat dasar
manusia yang mendukung adanya komptisi, melainkan kerja sama. Sebagai tim,
haruslah ada kolaborasi antar anggotanya, jika tidak ada kolaborasi, namanya
bukan tim. Bukankah ketika unsur unsur di dalam tim sudah tidak bekerja sama
tim itu akan hancur, begitulah pula kolaborasi.
Tentu
tim dibuat untuk memecahkan masalah atau problem, atau bahkan mencari problem
agar dapat di pecahkan. Bukankah acara wedding adalah sebuah problem, problem
dimana diharuskan ada acara wedding pada tanggal tertentu dan spesifikasi lain
yang ditentukan?, kemudian sebuah tim EO mencari masalah tersebut untuk
ditangani dengan men-take over acara
wedding tersebut. Tapi akan ‘lebih enak’ jika istilah problem pada contoh
diatas diganti menjadi ‘proyek’.
Agar
kolaborasi di dalam tim dibutuhkan pemimpin yang mempunyai integritas, tegas
(tegas bukan berarti galak atau keras lhoo), di cintai oleh anggotanya dan
mempunyai kemampuan manajerial yang baik (tolong ditambahin buat wawasan kita
bersama). Dengan kondisi ideal seperti itu, maka kolaborasi di dalam tim akan
sempurna dan akan menghasilkan tim yang baik.
Akan
tetapi, pasti ada hambatan. Hambatan dalam berkolaborasi di dalam tim biasanya
antara lain: ego individu, insentif yang salah, pemimpin yang lemah, nepotisme
pemimpin dll.
Manajemen
konflik yang menghambat kolaborasi di dalam tim di bagi menjadi dua yakni
inter-personal dan organisasi
Pendekatan
dalam penyelesaian konflik inter-personal ada tiga, yaitu:
1. Lose-lose
solution
Semua pihak
dinyatakan kalah atau penyelesain dengan melanggar peraturan
2. Win-lose
solution
Ini adalah
kezaliman
3. Win-win
solution
Inilah cara
paling ideal dalam penyelesaian konflik
Akan tetapi dalam suatu kondisi, seorang
pemimpin akan sulit untuk mewujudkan win-win solution. Maka yang dilakukan
pemimpin adalah memilih pilihan yang mempunyai opportunity cost paling kecil.
Pendekatan penyelesain
konflik organisasi ada tiga pula, yakni:
1. Bargaining
Approachment
Penyelesaian seperti ini dilakukan apabila ada
konflik yang disebabkan sumber daya
Penyelesaiannya dapat dilakukan dengan membagi
dengan adil (kebijaksaan pemimpin) sumber daya tersebut. Atau menekan
ketergantungan individu dalam tim akan sumber daya tersebut (mengalihkan,
menghilangkan, memberi alternatif)
2. Bureaucracy Approachment
Penyelesaian untuk
konflik vertikal secara struktur
Penyelesaiannya tinggal
mengganti peraturan yang birokratis menjadi peraturan yang impersonal
3. System
approachment
Jika dua diatas
tidak berhasil, maka kita akan melakukan penyelesaian dari hal mendasar
Mengubah tujuan
anggota dan mengurangi tingka kompetisi dalam anggota dengan menghilangkan atau
mengubah sedemikian rupa insentif/’sistem reward’ di dalam tim dan melakukan seleksi yang sesuai, Mengurangi
saling ketergantungan sesama anggota dengan mengurangi ketergantungan pada
penggunaan sumber daya bersama-sama dengan mengurangi tekanan untuk consensus.
M. Izzuddin Prawiranegara 16413283
M. Izzuddin Prawiranegara 16413283
Tidak ada komentar:
Posting Komentar