Halaman

Jumat, 23 Agustus 2013

kolaborasi dan tim

                Kolaborasi dapat diartikan secara mudah sebagai kerja sama, kerja bersama-sama, kerja bersama-sama dalam tim. Kolaborasi bukan kompetisi, walaupun sifat dasar manusia yang mendukung adanya komptisi, melainkan kerja sama. Sebagai tim, haruslah ada kolaborasi antar anggotanya, jika tidak ada kolaborasi, namanya bukan tim. Bukankah ketika unsur unsur di dalam tim sudah tidak bekerja sama tim itu akan hancur, begitulah pula kolaborasi.

                Tentu tim dibuat untuk memecahkan masalah atau problem, atau bahkan mencari problem agar dapat di pecahkan. Bukankah acara wedding adalah sebuah problem, problem dimana diharuskan ada acara wedding pada tanggal tertentu dan spesifikasi lain yang ditentukan?, kemudian sebuah tim EO mencari masalah tersebut untuk ditangani dengan men-take over acara wedding tersebut. Tapi akan ‘lebih enak’ jika istilah problem pada contoh diatas diganti menjadi ‘proyek’.

                Agar kolaborasi di dalam tim dibutuhkan pemimpin yang mempunyai integritas, tegas (tegas bukan berarti galak atau keras lhoo), di cintai oleh anggotanya dan mempunyai kemampuan manajerial yang baik (tolong ditambahin buat wawasan kita bersama). Dengan kondisi ideal seperti itu, maka kolaborasi di dalam tim akan sempurna dan akan menghasilkan tim yang baik.

                Akan tetapi, pasti ada hambatan. Hambatan dalam berkolaborasi di dalam tim biasanya antara lain: ego individu, insentif yang salah, pemimpin yang lemah, nepotisme pemimpin dll.

                Manajemen konflik yang menghambat kolaborasi di dalam tim di bagi menjadi dua yakni inter-personal dan organisasi

                Pendekatan dalam penyelesaian konflik inter-personal ada tiga, yaitu:
1.       Lose-lose solution
Semua pihak dinyatakan kalah atau penyelesain dengan melanggar peraturan
2.       Win-lose solution
Ini adalah kezaliman
3.       Win-win solution
Inilah cara paling ideal dalam penyelesaian konflik

Akan tetapi dalam suatu kondisi, seorang pemimpin akan sulit untuk mewujudkan win-win solution. Maka yang dilakukan pemimpin adalah memilih pilihan yang mempunyai opportunity cost paling kecil.

Pendekatan penyelesain konflik organisasi ada tiga pula, yakni:
1.       Bargaining Approachment
Penyelesaian seperti ini dilakukan apabila ada konflik yang disebabkan sumber daya
Penyelesaiannya dapat dilakukan dengan membagi dengan adil (kebijaksaan pemimpin) sumber daya tersebut. Atau menekan ketergantungan individu dalam tim akan sumber daya tersebut (mengalihkan, menghilangkan, memberi alternatif)

2.       Bureaucracy Approachment
Penyelesaian untuk konflik vertikal secara struktur
Penyelesaiannya tinggal mengganti peraturan yang birokratis menjadi peraturan yang impersonal

3.       System approachment
Jika dua diatas tidak berhasil, maka kita akan melakukan penyelesaian dari hal mendasar
Mengubah tujuan anggota dan mengurangi tingka kompetisi dalam anggota dengan menghilangkan atau mengubah sedemikian rupa insentif/’sistem reward’ di dalam tim dan melakukan seleksi yang sesuai, Mengurangi saling ketergantungan sesama anggota dengan mengurangi ketergantungan pada penggunaan sumber daya bersama-sama dengan mengurangi tekanan untuk consensus.

M. Izzuddin Prawiranegara 16413283


Tidak ada komentar:

Posting Komentar