Namun, kekurangan dan kelebihan kita juga dapat menjadi suatu hambatan dalam kolaborasi. Selain itu waktu, biaya, dll juga dapat menghambat kita dalam berkolaborasi dengan orang lain.
Untuk dapat berkolaborasi, kita harus memiliki team building yang baik. Team building adalah menyamakan persepsi atau tujuan dasar dari diadakannya kolaborasi tersebut. Setelah itu, dengan kolaborasi yang baik, kita dapat mencapai tujuan kita atau melakukan sebuah pergerakan. Namun semua itu harus diatasi dengan manajemen konflik agar dapat mengatur anggota ketika terjadi perselisihan sehingga tidak merugikan anggota lain atau menjadi gagal mencapai tujuan awal kolaborasi.
Ada 2 konflik, yaitu antarpersonal dan antarorganisasi. Untuk menyelesaikan konflik tersebut ada 3 macam pendekatan, antar lain
- Lose-lose. Lose-lose merupakan pendekatan dimana kedua belah pihak yang berkonflik dirugikan. Pendekatan ini sangat tidak disarankan. Contohnya seperti kasus menyuap.
- Win-Lose. Dengan pendekatan ini, salah satu pihak diuntungkan dan pihak yang lain dirugikan. Pendekatan ini tidak disarankan karena akan membuat konflik baru. Contohnya dilakukannya voting
- Win-Win. Ini adalah pendekatan terbaik dan sangat disarankan. Karena kedua belah pihak dapat menemukan solusi yang terbaik dan tidak ada yang dirugikan. Contohnya adalah musyawarah mufakat.
Ada pula 3 konsep dalam menyelesaikan konflik organisasi. 3 konsep tersebut antara lain:
- Bargaining Approachment. Konsep/pendekatan ini dapat dilakukan jika ada konflik yang menyangkut keterbatasan sumber daya. Untuk menggunakan pendekatan ini, dapat dilakukan dengan membagi kesempatan atau mengurangi keinginan untuk memperoleh sumber daya.
- Bureaucracy Approachment. Dapat disebut juga sebagai pendekatan birokrasi. Pendekatan ini dilakukan jika ada konflik mengenai kewenangan secara vertikal dalam suatu struktur. Konflik ini dapat terjadi jika pemimpinnya mengendalikan bawahannya, namun bawahannya menolak untuk dipimpin/memberontak. Dengan pendekatan ini dapat dilakukan seperti misalnya mengganti aturan birokratis dengan yang bersifat untuk pengendalian personal/diri masing-masing.
- System Approachment. System Approachment dapat digunakan jika 2 pendekatan sebelumnya tidak berhasil dilakukan. Pendekatan ini tidak seperti pendekatan nomor 2, melainkan lebih mengarah kepada hubungan secara horizontal antara fungsi di suatu organisasi. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan mengurangi perbedaan atau menyatukan tujuan, dan mengurangi ketergantungan secara fungsional dan terhadap penggunaan sumber daya bersama.
-Jessica Esther
16113115
Tidak ada komentar:
Posting Komentar